Keberhasilan Indonesia memberantas illegal, unreported, unregulated (IUU) fishing
saat ini, menarik perhatian negara tetangga Timor Leste. Negara yang
berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur itu secara
terang-terangan mengajukan bimbingan untuk bisa melakukan langkah serupa
di negaranya.
Keinginan tersebut diungkapkan Menteri Pertanian dan Perikanan Timor
Leste Estanislau da Silva saat berkunjung ke Indonesia. Da Silva
mengatakannya di depan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
Menurut Da Silva, pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan di
Indonesia saat ini dinilai sebagai salah satu yang termaju di dunia. Hal
itu, terbukti dengan keberhasilan Indonesia memberantas IUU Fishing sejak 2014 lalu.
“Kita masih belum punya pengalaman sebaik Indonesia dalam mengelola
sumber Raya kelautan dan perikanan. Kita pantas untuk belajar kepada
Indonesia,” ungkap da Silva.
Menteri
Pertanian dan Perikanan Timor Leste Estanislau da Silva berkunjung ke
Kapal Motor (KM) Madidihang 03 milik Sekolah Tinggi Perikanan (STP) yang
bersandar di dermaga Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman, Muara Baru,
Jakarta Utara pada Kamis (28/08/2015). Timor Leste bakal belajar ke
Indonesia untuk menangani pencurian ikan, karena Indonesia dianggap
berhasil memberantas IUU Fishing sejak 2014 lalu. Foto : M Ambari
Dengan belajar kepada Indonesia, da Silva sangat yakin negaranya bisa
menjaga sumber daya kelautan dan perikanan lebih baik lagi. Sehingga,
ke depan sumber daya yang ada bisa dikembangkan untuk kebutuhan industri
dan konsumsi nasional.
“Kita sebenarnya sudah pernah berbicara dengan Indroyono Soesilo
(mantan Menteri Koordinator Kemaritiman, Red) terkait dengan hal ini.
Tapi memang belum mendalam. Sekarang negara kami ingin lebih dalam lagi
kerja samanya,” tutur da Silva.
Sementara itu saat berkunjung ke Kapal Motor (KM) Madidihang 03 milik
Sekolah Tinggi Perikanan (STP) yang bersandar di dermaga Pelabuhan
Perikanan Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta Utara, da Silva
mengungkapkan ketertarikannya untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam
pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang kelautan dan perikanan.
Menurut da Silva, dengan mengembangkan SDM, dia sangat yakin
pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan bisa semakin lebih baik
lagi. Sehingga, segala potensi yang ada di dalamnya bisa dimanfaatkan
dengan baik dan tetap menjaga kelestarian lingkungannya.
“Kita akan merekrut ahli dari Indonesia untuk membantu pengelolaan
kekayaan laut di Timor Leste. Kita akan melakukan itu sejalan dengan
pemberantasan ilegal fishing,” tutur da Silva kepada Mongabay di atas KM Madidihang, pada Kamis (28/08/2015).
MoU Indonesia-Timor Leste
Menindaklanjuti kerja sama bilateral tersebut, Indonesia dan Timor
Leste sepakat bekerja sama yang diresmikan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU/Nota
Kesepahaman) antara Menteri da Silva dengan Menteri Susi Pudjiastuti.
Penandatanganan dilaksanakan di Kantor Kementerian Kelautan dan
Perikanan (KKP), Sabtu (29/08/2015) pagi.
Kerja sama tersebut mencakup penelitian dan pertukaran ahli, dan
pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang kelautan dan perikanan.
Selain hal tersebut, melalui kerja sama tersebut disepakati untuk
pencegahan illegal fishing, manajemen perikanan konservasi, serta pertukaran informasi dan teknologi perikanan.
Menteri da Silva berharap, MoU yang sudah ditandatangani tersebut bisa meningkatkan pengawasan dan pemberantasan illegal fishing
di kedua negara, terutama di Timor Leste. Tidak hanya itu, dari kerja
sama tersebut kejahatan yang terjadi laut seperti perdagangan manusia,
penyelundupan senjata dan penyelundupan satwa langka juga bisa
diberantas.
“Timor Leste itu negara yang kaya. Kekayaan di laut Timor Leste sangat banyak saat ini. Hanya sayang, kejahatan illegal fishing
yang sudah terjadi bertahun-tahun menyebabkan kekayaan itu tidak bisa
dimanfaatkan dengan maksimal untuk kepentingan industri dan konsumsi di
Timor Leste,” jelas da Silva.
Sementara itu Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan
(BSDMKP) KKP Suseno Sukoyono, dalam kesempatan yang sama mengatakan,
teknis kerja sama di bidang SDM akan dibicarakan lebih lanjut.
“Namun, yang pasti, nanti akan ada pelatihan-pelatihan yang diberikan
kepada tenaga ahli dari Timor Leste. Pelatihan akan dilaksanakan di
Indonesia. Sementara untuk tenaga ahli yang dikirim ke Timor Leste, itu
juga masih dibicarakan,” papar Suseno.
Lindungi Garam Nasional
Sementara itu, seusai melakukan penandatangan MoU, Susi Pudjiastuti
memberikan keterangan terkait perencanaan pengelolaan garam nasional.
Kata dia, pihaknya mengalokasikan anggaran sebesar Rp180 miliar untuk
petani garam.
“Tujuannya, agar garam yang ada di tingkat petani bisa terjaga kualitasnya,” ungkap Susi.
Menurut Susi, dengan anggaran sebesar itu, KKP bisa memberli
geomembran, yang bertujuan untuk meningkatkan kejernihan dan memperbaiki
tingkat kekeringan garam. Dengan demikian, tingkat NaCi diharapkan bisa
bertambah lebih banyak lagi.
“Sudah dibuat pagu oleh Pemerintah untuk menjaga tingkat stabilitas
harga garam di tingkat petani. Untuk kualitas nomor satu itu pagunya
Rp700 (per kg), kualitas nomor dua Rp550 dan kualitas nomor tiga Rp450.
Itu semua berlaku di tingkat petani ya,” papar Susi.
Dengan diterapkan pagu seperti itu, dia berharap kualitas garam dan
stabilitas harga bisa terjaga di tingkat petani. Hal itu, didukung juga
dengan larangan adanya impor garam saat sebulan menjelang panen dan atau
dua bulan setelah panen.
“Kita harus bersama-sama melindungi garam nasional. Impor perlu
dilakukan jika memang garam nasional sudah tidak bisa memenuhinya lagi.
Khusus untuk industri, impor bisa dilakukan kapan pun,” pungkas Susi.
Referenci :







0 komentar:
Post a Comment